Kopi Cangkruk SAPMA PP Surabaya Jadi Sekolah Demokrasi, 170 Pemuda Serbu Dialog

Compress_20261029_193502_2951

SURABAYA, LNM – Upaya mengubah stigma negatif dilakukan SAPMA Pemuda Pancasila Kota Surabaya. Lewat Kopi Cangkruk 2026 bertema Sekolah Demokrasi, organisasi yang kerap dicap preman ini justru membangun ruang dialog intelektual bagi 170 mahasiswa, aktivis, hingga warga. Acara membludak dari target awal 100 peserta.

Kegiatan di Kapula Heritage Surabaya ini digelar untuk memperingati Hari Lahir SAPMA ke-38 dan Sumpah Pemuda ke-98. Ketua PC SAPMA Surabaya Kevin Harlens menegaskan, SAPMA ingin keluar dari bayang-bayang stigma lama.

“Banyak stigma negatif tentang SAPMA. Hari ini kami ingin tunjukkan perubahan bahwa SAPMA bisa menjadi wadah besar organisasi kepemudaan dan rumah kepemimpinan yang bisa dimanfaatkan masyarakat,” ujar Kevin.

Ia didampingi jajaran pengurus, Wakil Ketua 1 Muhammad Aqilah Rafi, Sekretaris Rubens Jans, dan Bendahara Harun Hakim Laitupa.

Arif Fathoni: Kalau Anggap Politik Kotor, Masuk dan Perbaiki

Wakil Ketua DPRD Surabaya Arif Fathoni yang hadir sebagai pemateri menyambut positif langkah SAPMA. Menurut politisi yang akrab disapa Toni itu, forum seperti ini penting agar suara pemuda tidak hilang.

Ia menjawab langsung keresahan mahasiswa yang menganggap politik itu kotor.

“Kalau anak muda merasa hari ini politik itu kotor, ayo bergabung ke partai politik. Kita benahi dari dalam agar wajah politik Indonesia ke depan menjadi lebih baik,” tegas Arif.

Arif mengingatkan, sikap apatis justru menjauhkan pemuda dari pengambilan keputusan strategis. Ia juga menekankan literasi digital dan kepekaan sosial.

“Jangan sampai generasi muda kehilangan kepekaan sosial. Kalau anak muda sudah jauh dari persoalan di lingkungannya, gerakan kepeloporan pemuda bisa hilang,” ujarnya.

Pemkot: Saluran Aspirasi Jangan Buntu

Kepala Bakesbangpol Surabaya Tundjung Iswandaru mewakili Pemkot menegaskan pihaknya terbuka memfasilitasi kegiatan kepemudaan.

“Apa yang ada di lapangan harus kita tangkap dan tindak lanjuti. Ke depan, anak muda yang akan meneruskan perjuangan bangsa ini. Jangan sampai saluran aspirasi mereka buntu,” kata Tundjung.

Aspirasi Pendidikan Warga Ikut Mencuat

Menariknya, forum yang awalnya untuk aktivis mahasiswa ini juga menampung keluhan warga. Salah satu aspirasi yang mengemuka adalah sulitnya akses masuk sekolah SMP dan SMA negeri di Surabaya.

Kevin menyebut hal itu bukti bahwa konsep Sekolah Demokrasi yang dibangun SAPMA bekerja. Tidak hanya menjadi ajang diskusi mahasiswa, tetapi jembatan antara warga dan penguasa.

“Ini bukan hanya untuk mahasiswa, tetapi juga masyarakat Kota Surabaya. Apa pun aspirasi dan keluhan masyarakat, kami berharap SAPMA bisa menjadi salah satu wadah untuk menampung dan menyampaikannya,” kata Kevin.

Kopi Cangkruk ini merupakan agenda keempat setelah silaturahmi ke PAC Dukuh Pakis, Jambangan, dan Gayungan. Ke depan, SAPMA menargetkan menghadirkan lebih banyak pimpinan legislatif agar aspirasi pemuda langsung didengar. (jo/red)

About The Author