All Icon Wastra Batik 2026 Terpilih, 5 Wajah Baru Ikon Batik dari Pasuruan hingga Jakarta

Compress_20261027_175744_4601

SURABAYA, LNM – Grand Final Putra Putri Wastra Batik Indonesia 2026 di Surabaya Suites Hotel tidak hanya melahirkan juara, tetapi juga melahirkan All Icon baru wastra batik Indonesia. Lima pemenang dari lima kategori berbeda kini resmi menyandang gelar sebagai ikon batik dari Pasuruan, Jakarta hingga Bali.

Konsep All Icon yang diusung Glamour Indonesia milik Lavamiga Mica Zahira tahun ini memang berbeda. Jika tahun sebelumnya hanya fokus pada satu juara umum, tahun 2026 semua kategori dianggap sebagai ikon dengan peran yang sama besar untuk mempromosikan batik.

All Icon Wastra Batik Indonesia 2026. (Foto/Istimewa)

Kelima All Icon tersebut adalah Zahra Aisyah Khairina Adisty (Pasuruan) untuk Kategori A Kids, Ni Putu Isyana Janeswara Saputra (Bali) untuk Kategori A, Evelyn Gwyneth Lienata (Mojokerto) untuk Kategori B, Evelyn Vaio Hummaira (Surabaya) untuk Kategori C, dan Camay Anjani Winata (Jakarta) untuk Kategori D.

Kehadiran Arumi Bachsin yang mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa semakin menguatkan konsep All Icon ini. Menurut Arumi, setiap usia memiliki cara sendiri untuk mencintai batik, sehingga semua pemenang layak menjadi duta.

“Adik-adik harus menjadi garda terdepan yang nantinya meneruskan perjuangan untuk memperkenalkan wastra Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa,” jelas Arumi. Ia menekankan pentingnya brain, beauty, dan behavior bagi seorang ikon.

Mica Zahira menegaskan, kelima All Icon akan mendapat tugas promosi yang sama. Mereka tidak hanya akan tampil di event, tetapi juga diajak turun langsung ke perajin di sentra batik Madura dan Lumajang untuk memahami proses membatik.

“Kita tidak ingin mereka hanya cantik di atas panggung. All Icon harus tahu bagaimana susahnya membuat batik tulis, agar mereka bisa cerita dengan hati ke Gen Z,” ujar Mica.

Salah satu All Icon yang mencuri perhatian adalah Ni Putu Isyana Janeswara Saputra dari Bali. Pernyataannya tentang pelestarian batik lewat media sosial dianggap paling relevan dengan konsep All Icon masa kini.

“Kita tentunya tidak harus menjadi pembatik untuk melestarikan batik. Kita bisa memakainya, kita bisa mempelajarinya, bahkan kita bisa memperkenalkan maknanya dengan bangga melalui media sosial,” ungkapnya. (jo)

About The Author