Malam Terakhir Diklat PP di Trawas Diisi Ikrar Merah Putih dan Api Resolusi Kebangsaan Jaga Persatuan NKRI

Compress_20261025_124549_9483

MOJOKERTO, LNM – Malam terakhir Diklat Pratama Pemuda Pancasila diisi rangkaian post-test, caraka malam, Ikrar Merah Putih dan Api Resolusi Kebangsaan. Kegiatan ini menjadi puncak pembentukan karakter 308 kader se-Jawa Timur, pada Sabtu malam (24 Oktober 2026) di Mentari Camp, Trawas, Kabupaten Mojokerto, menjadi momentum peneguhan komitmen kader terhadap ideologi Pancasila, persatuan bangsa, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Prosesi tersebut dilaksanakan setelah peserta menjalani rangkaian kegiatan malam Cakra sebagai bagian dari pembentukan mental, karakter, kedisiplinan, dan jiwa korsa kader Pemuda Pancasila.

Di tengah suasana malam pegunungan Trawas, kegiatan itu tidak sekadar menjadi seremoni organisasi, tetapi juga ruang refleksi untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan, loyalitas, tanggung jawab, serta semangat persaudaraan di antara kader yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Pengurus Cabang Badan Pelaksana Kaderisasi (BPK) Pemuda Pancasila Kota Surabaya sekaligus Master of Training, Nurdin Longgari, bersama jajaran pengurus Majelis Pimpinan Wilayah (MPW), para Ketua Majelis Pimpinan Cabang (MPC), ketua-ketua bidang MPC, panitia pelaksana, serta peserta Diklat Kader Pratama Pemuda Pancasila 2026.

Dalam arahannya, Nurdin Longgari menegaskan bahwa kaderisasi merupakan proses penting untuk membentuk anggota organisasi yang tidak hanya memiliki loyalitas dan semangat kebersamaan, tetapi juga berkarakter, berdisiplin, serta mampu mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurutnya, menjadi kader Pemuda Pancasila bukan sekadar mengenakan atribut organisasi atau menunjukkan identitas keanggotaan. Lebih dari itu, setiap kader dituntut memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik organisasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Persaudaraan Lebih Kuat dari Ikatan Darah

Dalam kesempatan tersebut, Nurdin menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah menunjukkan kesungguhan mengikuti proses pendidikan dan pelatihan, meskipun harus meninggalkan keluarga, pekerjaan, serta berbagai aktivitas pribadi selama kegiatan berlangsung.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas segala keterbatasan panitia dalam memberikan pelayanan kepada peserta.

“Kami dari panitia memohon maaf sebesar-besarnya apabila selama kegiatan ini ada pelayanan maupun hidangan yang kurang lengkap atau kurang berkenan. Terima kasih kepada saudara-saudara semua yang telah meluangkan waktu, meninggalkan keluarga dan tugas-tugas di rumah demi mengikuti Diklat Kader Pratama Pemuda Pancasila 2026,” ujar Nurdin.

Lebih jauh, Nurdin mengingatkan bahwa salah satu kekuatan utama Pemuda Pancasila terletak pada ikatan persaudaraan yang tumbuh di antara para anggotanya.

Ia menegaskan, persaudaraan dalam organisasi tidak harus dilandasi hubungan darah, melainkan dibangun melalui kesetiaan, rasa saling menghormati, kepedulian, dan tanggung jawab bersama.

“Kita mungkin tidak sedarah, tetapi kita lebih dari saudara. Karena itu, kekompakan dan persaudaraan harus kita jaga bersama. Kalau ada persoalan di antara saudara kita, mari kita selesaikan dengan kepala dingin dan mencari solusi terbaik,” tegasnya.

Nurdin juga mengingatkan makna semboyan “Esa Hilang Dua Terbilang” yang terkandung dalam Mars Pemuda Pancasila sebagai pengingat pentingnya solidaritas, semangat pantang menyerah, dan persatuan dalam menghadapi berbagai tantangan organisasi.

Namun, ia menekankan bahwa solidaritas tidak boleh dimaknai sebagai pembenaran terhadap tindakan yang bertentangan dengan hukum ataupun nilai-nilai Pancasila.

Sebaliknya, solidaritas harus diwujudkan melalui kepedulian, sikap saling melindungi dalam kebaikan, serta kemampuan menyelesaikan persoalan secara damai dan bermartabat.

Menurut Nurdin, perbedaan pendapat maupun persoalan internal merupakan dinamika yang dapat terjadi dalam organisasi. Karena itu, setiap kader harus mampu mengendalikan emosi, mengedepankan komunikasi, dan mencari penyelesaian melalui musyawarah.

Kekuatan organisasi, lanjutnya, tidak semata-mata diukur dari jumlah anggota, tetapi juga dari kualitas karakter, kedewasaan berpikir, serta kemampuan para kader menjaga persatuan dan kepercayaan masyarakat.

Tanamkan Disiplin dan Penghormatan kepada Senior

Selain menekankan pentingnya persaudaraan, Nurdin memberikan perhatian khusus terhadap pembentukan karakter kader melalui kedisiplinan, etika organisasi, dan penghormatan kepada para senior.

Ia mengingatkan bahwa setiap anggota Pemuda Pancasila harus memahami tata nilai organisasi, menghormati struktur kepemimpinan, serta menjaga sopan santun dalam berinteraksi dengan sesama kader.

“Ketaatan dan kepatuhan kepada senior merupakan prinsip yang harus ditanamkan dalam diri setiap kader. Kita harus tetap menghormati senior, menjaga sopan santun, serta memahami tata nilai yang berlaku dalam organisasi,” katanya.

Penghormatan tersebut, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab, keteladanan, dan kepatuhan terhadap aturan organisasi maupun ketentuan hukum.

Ia berharap para peserta tidak hanya memahami materi yang disampaikan selama pelatihan, tetapi juga mampu menerapkannya setelah kembali ke daerah masing-masing.

Kedisiplinan, loyalitas, dan jiwa korsa, kata Nurdin, harus tercermin melalui perilaku nyata, baik dalam kehidupan organisasi, keluarga, lingkungan sosial, maupun dalam pengabdian kepada bangsa dan negara.

Kader Pemuda Pancasila Harus Memahami Sejarah Organisasi

Pada kesempatan yang sama, Nurdin juga menyoroti pentingnya pemahaman sejarah dan dinamika organisasi Pemuda Pancasila sebagai bagian dari pembentukan identitas serta karakter kader.

Menurutnya, setiap anggota perlu memahami perjalanan organisasi, nilai-nilai perjuangan, serta tanggung jawab menjaga Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa.

Ia menekankan bahwa pemahaman ideologi tidak cukup berhenti pada hafalan atau slogan, melainkan harus diwujudkan dalam sikap toleransi, gotong royong, persatuan, dan penghormatan terhadap keberagaman masyarakat Indonesia.

Dengan demikian, kaderisasi diharapkan menjadi sarana untuk melahirkan anggota organisasi yang memiliki wawasan kebangsaan, berintegritas, serta mampu berkontribusi dalam menjaga kehidupan sosial yang harmonis.

308 Peserta dari 12 Daerah, Diharapkan Lulus Kaderisasi

Diklat Kader Pratama Pemuda Pancasila 2026 yang diselenggarakan MPC Pemuda Pancasila Kota Surabaya melalui Badan Pelaksana Kaderisasi diikuti peserta dari 12 kabupaten/kota di Jawa Timur.

Daerah tersebut meliputi Kota Surabaya, Kabupaten Mojokerto, Kota Mojokerto, Kabupaten Malang, Kota Malang, Kabupaten Jember, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Tuban, Kabupaten Sidoarjo, dan Kota Batu.

Kegiatan yang berlangsung pada 23–25 Oktober 2026 itu mengusung tema “Meneguhkan Ideologi Pancasila, Membangun Jiwa Korsa, Mewujudkan Kader yang Disiplin dan Berintegritas.”

Selama mengikuti pendidikan, peserta mendapatkan pembekalan mengenai ideologi Pancasila, wawasan kebangsaan, sejarah dan dinamika organisasi, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), kedisiplinan, kepemimpinan, serta berbagai materi pembentukan karakter dan keterampilan berorganisasi.

Nurdin berharap seluruh peserta dapat menyelesaikan setiap tahapan pendidikan dengan baik, termasuk mengikuti ujian dan evaluasi yang telah ditetapkan penyelenggara.

Ia menyampaikan harapan agar seluruh 308 peserta dapat memenuhi persyaratan administrasi, mengikuti proses evaluasi secara sungguh-sungguh, dan pada akhirnya dinyatakan lulus sesuai ketentuan kaderisasi.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari sertifikat kelulusan, tetapi juga dari perubahan sikap, peningkatan pengetahuan, kedisiplinan, dan tanggung jawab para peserta setelah kembali ke lingkungan masing-masing.

Api Kebangsaan Jadi Simbol Komitmen Menjaga NKRI

Prosesi Resolusi Api Kebangsaan dan Ikrar Merah Putih menjadi salah satu momentum penting dalam rangkaian Diklat Kader Pratama Pemuda Pancasila 2026.

Api kebangsaan dimaknai sebagai simbol semangat perjuangan, keberanian, persatuan, dan komitmen untuk terus menjaga nilai-nilai Pancasila di tengah berbagai tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sementara itu, Ikrar Merah Putih menjadi penegasan kembali tanggung jawab moral para kader untuk menjunjung tinggi persatuan, menghormati keberagaman, serta menjaga keutuhan NKRI.

Melalui momentum tersebut, peserta diharapkan semakin memahami bahwa loyalitas terhadap organisasi harus sejalan dengan kesetiaan kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Rangkaian kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kader Pemuda Pancasila dituntut hadir sebagai bagian dari solusi atas persoalan masyarakat, bukan justru menjadi sumber konflik maupun perpecahan.

Dengan semangat “Satu Komando, Pemuda Pancasila Abadi,” pendidikan kaderisasi tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi kader yang tangguh, berdisiplin, berintegritas, menjunjung tinggi persaudaraan, serta memiliki kepedulian terhadap kepentingan bangsa dan negara.

Dari Trawas, semangat Api Kebangsaan dan Ikrar Pemuda Pancasila diharapkan tidak berhenti sebagai simbol dalam prosesi malam, melainkan terus menyala melalui tindakan nyata para kader dalam menjaga persatuan, mengabdi kepada masyarakat, dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila. (Jo/red)

About The Author